Perantauan hati yang melanglangbuana ke setiap penjuru hati akhirnya bertepi di sandaran bahumu.
Rusuk yang lelah mencari tersungkur lemah hampir putus asa.
Apa mungkin aku ini patahan rusukmu? Rusuk yang terkemas dalam sesosok aku penuh kekeras kepalaan.
Tapi kau tau,rusuk itu melengkung tetap tunduk padamu,hidupku.
Sosokmu memang candu, semacam zat adiktif alami hati.
Tawamu itu memang candu,semacam sesapan nikotin yg enggan habis aku sesapi
Pelukmu terbuat dari apa?! Nyamannya terlalu membutakan,selalu berakar dahaga.
Aku mulai melukis di langit hati penuh dengan namamu,decak kagumku akan kekonyolanmu.
Tuhan itu maha indah,menjatuhkan keindahan dalam mata dan lesung pipimu.
Langit hatiku berawal hanya hamparan biru kosong tanpa awan,tanpa angin,tanpa matahari.
Lalu aku sedikit lukiskan satu kali namamu.dan berefek lebih terang dari sinar apapun, bahkan mentari melirik iri.
Gumpalan awan mulai menghias langit hatiku,teduh seperti sorot matamu.
Hadirmu tercatat dalam buku waktu.
Buku waktu tanpa batas untuk selalu menuliskanmu,namamu,melukiskan wajahmu, menggerus emosi hati untuk mengingatmu selalu seumur hidupku.
Obat hati adalah kamu, racikan semesta untukku.
Tanpa kata tanpa bahasa hanya pagutan batin aku,kamu dan alam semesta mendadak hening, bahkan dunia pun biarkan kita nikmati malam kita.
Bulan pun enggan pergi,tugasnya malam ini sinari malam kelam tanpa awan,sempurna.
Kecupan membiuskan,pelukan membisukan,tatapan melumpuhkan. Aku ingin tenggelam dalam dasar hatimu.
Anginpun tertawa, hembusan dinginnya tak aliri kita yang menghangat.
Tanpa jeda, tak urung aku ciumimu.
Madu terlampau pahit untukku sekarang,kau terlampau manis sayang.
Ciumi aku sekali lagi,layaknya semalam.
Langit hati terlampau luas untuk dikuas, lukiskan cerita kita.
Satu kuas untukmu, Tolong lukiskan tentangku,tentangmu,tentang kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar