Minggu, 21 Juli 2013

SATU

Ratusan menggenap di angka Satu
Tiga 
Enam 
Lima 

Menggenapkan dua langkah menjadi Satu
Menggumam dua senyum menjadi Satu
Melucuti dua jiwa menjadi Satu

Satu Tahun 
22 Juli 2012 - 22 Juli 2013 




Rabu, 19 Juni 2013

Menaruh benih mimpi

Berjanji sehidup semati layaknya berdiri dalam tanduk sunyi, kanan kiri lautan kegamangan hati
Berjanji sehidup semati tak sekedar menepi
Berjanji sehidup semati berarti sejoli memasuki dunia yang bukan lagi mimpi

Kenyataan yang jauh dari angan
Kenyataan yang menyesali arti kata jangan
Kenyataan yang seolah mengiris lengan

Tampaknya mudah,namun Tuhan membiarkan makhluknya berjuang indah

Tampaknya sulit,namun Tuhan tak membiarkan ini berbelit

Percaya ini akan berakhir indah nyata adanya
Gelombang goda tak membuat kami goyah
Tanpa menyerah tanpa letih berdoa

 :') 

Rabu, 29 Mei 2013

Buku waktu bawa serta kamu


Mencintaimu tanpa lini waktu memaku

Mencintaimu sepanjang pagi sampai nanti

Lelayang tersesat tersapu angin laut sore
Aku tersesat dalam bujuk langit sore mencarimu

Aku menemukanmu dalam awan 
Aku menemukanmu dalam tumpukan angan

Sesaat kamu lalu berlalu
Sesaat kamu lalu hanyut ke hulu waktu
Waktu yang melulu kamu
Waktu yang menyaring namamu 
Waktu yang memang tercetak sosokmu

Lalu? 
Ya..aku berlari pulang, terengah setengah sadar menyunting banyak pena untuk memetakanmu dalam buku waktuku.

Ya..aku akhirnya bungkam dan tutup segala sesuatunya dan terfokus kamu

Kita di awal cerita
Kita di akhir cerita

Kamu dengan seisi kepalamu
Aku dengan seisimu dalam kepalaku

Pecinta kata
Peramu rasa
Pencipta nuansa mencinta


Rela

Relakan

Relakan saat sosok hangat meninggalkan dan menyisakan ruang dingin dalam dinding hati,tanpa riak bahagia

Isak tanpa kerelaan dan rindu yang tertampung begitu penuh haru,tawa dan pembelajar hidup membendung penuh dalam memori hati,dan kornea

bersama merangkak,bangkit dan berlari dalam fase kehidupan

Waktu berlalu rasanya selamanya,kenangan melekat selamanya
kerinduan terucap,senyum tertancap

Dunia memang telah berputar
kita pun tak berhenti berputar,bersama kita akan bersama kembali,kembali dalam riuh bahagia

Matematika hati

Tertatih satu
Terengah dua

Semacam matematika yang ku favoritkan dalam hidup

Kau senyum satu
Kau terjaga dua

Semacam aku tak ingin lupa,kau begitu indah tanpa rumusan apapun jua

Mengulang memori haru satu
Menyemat bahagia dua

Aku mencintaimu lebih dari angka apapun di dunia
Prima,kali,bagi,kurang? Tak ada yg bisa menghitung setiap detik denyutku memanggilmu

Aku rindu
Aku rindu 
Aku rindu

Tiga kali ku menyeru rindu
Kuharap kau menaruh rindu itu di situ, di sisi hati yg dekat dengan kalbu

Aku sayang kamu layaknya embun merindukan pagi

Aku sayang kamu layaknya bintang merindukan gelap malam

Aku sayang kamu tanpa hitungan matematika dan gempitanya alam

Minggu, 17 Februari 2013

Momentum berdentum dalam senyum

Bulir hujan di senja yang menua
Bulir hujan di hati yang gersang ingin jumpa
Bulir hujan di hati lugu menunggu
Bulir hujan menetesi pipi,dagu tanpa ragu

Sendiri menikmati nyanyian sang hujan
Tik..tik..tik semacam detik detik menunggumu pulang

Riuh riak mimikmu dalam kopiku sore ini
Mengutuk rindu
Mengetuk tiap sudut kalbu

Kala jingga tenggelam, surya menghilang
Lara menyiksa raga
Malam menjelang, rindu semakin mendahaga
Pelita bintang menjulang titipkan seruku pada jutaan pelita kota yang kau singgahi

Kusisakan setiap sesapan kopiku
Tak ku sisakan sesapmu dalam tidurku

Senja, malam, hangat pagi
Selalu menunggumu kembali

Terik, berbasah hujan, berlembab embun
Menggumam mengagum senyum

Tersirat, tersurat biarkan rindu hanyut lalu berkarat dalam gelap

Dalam malam rindu
Dalam malam sendu
Tak urung murungku memanggil kamu

Dalam pagi gusar
Dalam pagi berdebar
Tak sabar menyarangkan rindu dalam pelukmu

Dalam senja gelisah
Dalam senja membuat kisah
Tak sudah rindu disayat luka

Aku tanpamu bergulat duka
Aku tanpamu bermuram durja

Segera pulang wahai hati
Serpihan rapuh hatimu tertinggal disini
Kau cari sendiri