Separuh aku itu adalah ibu.
Separuh aku itu adalah baba.
Leburan emosi dan cinta antara sejoli yang ku sebut baba ibu yang menjadikan aku.
Lebih dari 1 per 4 hidupku menaung dalam pelukmu.
Aku hanya gadis kecil lemah di matanya, menangis dan merengek bila merindukannya.
Aku hanya gadis kecil manja yang terekam di benaknya.
Aku memang manja,selalu haus akan belaiannya.
Aku memang lemah bila tanpanya.
Setua apapun aku nanti.aku tidak akan pernah siap untuk kehilangan 2 sosok pahlawan dalam hidupku.
Sebijak apapun aku nanti.aku tidak akan pernah berhenti merengek meminta kasihnya.
Sekuat apapun aku nanti.aku tidak akan pernah lupa meminta doanya..
Semapan apapun aku nanti. Aku tidak akan cukup membalas peluhnya.
Aku terlalu mencintai mereka.
Doaku,sehatkanlah dan bahagiakanlah mereka dalam porsi dan posisi terindahMu.
Dede merindu baba,iyang. Disini sepi sendiri.
Kembali dan tak ada habisnya bersyukur padaMu.
Terimakasih telah dilahirkan dalam keluarga yang sederhana namun Cinta yang luar biasa :')
Selasa, 25 September 2012
Sabtu, 15 September 2012
Hati-hati wahai Hati
Hai hati,
Kau bertemu lagi dengan guratan tangan kananku yang tak terlalu indah bila kau pandang terlalu lama.
Bersama ini aku tuliskan,sebelum kau pergi pun tulisan ini sudah kuguratkan dalam batinmu. Aku selalu merindukanmu.
Candu yang kuracik sendiri tanpa sadar sulit kutemukan penawarnya bila ku tak bisa dekapimu.
Kau pasti sedang dikelilingi hamparan salah satu lukisan Tuhan yg paling indah,perpaduan biru langit dan putihnya awan, jangan khawatir langit yang kau lihat itu serupa dengan langit hati yang sedang kulukis sekarang.
Bahkan saat signal telekomunikasi itu dipaksakan untuk terputus, tak sama dengan doaku yang selalu kuserukan untuk selalu selamatkanmu dari segala hal yang bahkan aku tak mau membayangkannya.
Aku selipkan doa-doaku dalam awan yang ikut bersamamu.
Aku selipkan hangat jemariku dalam buku-buku jarimu.
Aku selipkan senyumku dalam setiap nafas yang kau hirup.
Aku selipkan hidupku dalam semesta hidupmu.
Aku selipkan raut wajahku dalam pelupuk matamu, agar kau setiap membuka mata dan terpejam bahkan mengedip pun aku yang ada didepan matamu.
Saat kau jauh disana dan aku yang meringkuk kesepian dipojok lara, kumohon peluklah aku selalu dalam sudut hatimu erat dan jangan biarkan berkarat.
Aku benci melihatmu pergi, karena hati ini memusuhi perpisahan.
Namun hati ini berharap kembali pertemuan.
Kita akan bertemu lagi bukan?!
Aku selalu menunggu disini dan selalu mengetuk pintu rindu yang dirudung sendu bila tanpamu.
Nogus,pesanku untukmu,saat kau pulang nanti, peluklah aku dalam hening,ciumlah aku dalam diam, tataplah aku dalam senyap.
Tertanda
-kekasihmu masa ini dan masa depan-
Kau bertemu lagi dengan guratan tangan kananku yang tak terlalu indah bila kau pandang terlalu lama.
Bersama ini aku tuliskan,sebelum kau pergi pun tulisan ini sudah kuguratkan dalam batinmu. Aku selalu merindukanmu.
Candu yang kuracik sendiri tanpa sadar sulit kutemukan penawarnya bila ku tak bisa dekapimu.
Kau pasti sedang dikelilingi hamparan salah satu lukisan Tuhan yg paling indah,perpaduan biru langit dan putihnya awan, jangan khawatir langit yang kau lihat itu serupa dengan langit hati yang sedang kulukis sekarang.
Bahkan saat signal telekomunikasi itu dipaksakan untuk terputus, tak sama dengan doaku yang selalu kuserukan untuk selalu selamatkanmu dari segala hal yang bahkan aku tak mau membayangkannya.
Aku selipkan doa-doaku dalam awan yang ikut bersamamu.
Aku selipkan hangat jemariku dalam buku-buku jarimu.
Aku selipkan senyumku dalam setiap nafas yang kau hirup.
Aku selipkan hidupku dalam semesta hidupmu.
Aku selipkan raut wajahku dalam pelupuk matamu, agar kau setiap membuka mata dan terpejam bahkan mengedip pun aku yang ada didepan matamu.
Saat kau jauh disana dan aku yang meringkuk kesepian dipojok lara, kumohon peluklah aku selalu dalam sudut hatimu erat dan jangan biarkan berkarat.
Aku benci melihatmu pergi, karena hati ini memusuhi perpisahan.
Namun hati ini berharap kembali pertemuan.
Kita akan bertemu lagi bukan?!
Aku selalu menunggu disini dan selalu mengetuk pintu rindu yang dirudung sendu bila tanpamu.
Nogus,pesanku untukmu,saat kau pulang nanti, peluklah aku dalam hening,ciumlah aku dalam diam, tataplah aku dalam senyap.
Tertanda
-kekasihmu masa ini dan masa depan-
Sabtu, 01 September 2012
Pola Langit Hati
Perantauan hati yang melanglangbuana ke setiap penjuru hati akhirnya bertepi di sandaran bahumu.
Rusuk yang lelah mencari tersungkur lemah hampir putus asa.
Apa mungkin aku ini patahan rusukmu? Rusuk yang terkemas dalam sesosok aku penuh kekeras kepalaan.
Tapi kau tau,rusuk itu melengkung tetap tunduk padamu,hidupku.
Sosokmu memang candu, semacam zat adiktif alami hati.
Tawamu itu memang candu,semacam sesapan nikotin yg enggan habis aku sesapi
Pelukmu terbuat dari apa?! Nyamannya terlalu membutakan,selalu berakar dahaga.
Aku mulai melukis di langit hati penuh dengan namamu,decak kagumku akan kekonyolanmu.
Tuhan itu maha indah,menjatuhkan keindahan dalam mata dan lesung pipimu.
Langit hatiku berawal hanya hamparan biru kosong tanpa awan,tanpa angin,tanpa matahari.
Lalu aku sedikit lukiskan satu kali namamu.dan berefek lebih terang dari sinar apapun, bahkan mentari melirik iri.
Gumpalan awan mulai menghias langit hatiku,teduh seperti sorot matamu.
Hadirmu tercatat dalam buku waktu.
Buku waktu tanpa batas untuk selalu menuliskanmu,namamu,melukiskan wajahmu, menggerus emosi hati untuk mengingatmu selalu seumur hidupku.
Obat hati adalah kamu, racikan semesta untukku.
Tanpa kata tanpa bahasa hanya pagutan batin aku,kamu dan alam semesta mendadak hening, bahkan dunia pun biarkan kita nikmati malam kita.
Bulan pun enggan pergi,tugasnya malam ini sinari malam kelam tanpa awan,sempurna.
Kecupan membiuskan,pelukan membisukan,tatapan melumpuhkan. Aku ingin tenggelam dalam dasar hatimu.
Anginpun tertawa, hembusan dinginnya tak aliri kita yang menghangat.
Tanpa jeda, tak urung aku ciumimu.
Madu terlampau pahit untukku sekarang,kau terlampau manis sayang.
Ciumi aku sekali lagi,layaknya semalam.
Langit hati terlampau luas untuk dikuas, lukiskan cerita kita.
Satu kuas untukmu, Tolong lukiskan tentangku,tentangmu,tentang kita.
Rusuk yang lelah mencari tersungkur lemah hampir putus asa.
Apa mungkin aku ini patahan rusukmu? Rusuk yang terkemas dalam sesosok aku penuh kekeras kepalaan.
Tapi kau tau,rusuk itu melengkung tetap tunduk padamu,hidupku.
Sosokmu memang candu, semacam zat adiktif alami hati.
Tawamu itu memang candu,semacam sesapan nikotin yg enggan habis aku sesapi
Pelukmu terbuat dari apa?! Nyamannya terlalu membutakan,selalu berakar dahaga.
Aku mulai melukis di langit hati penuh dengan namamu,decak kagumku akan kekonyolanmu.
Tuhan itu maha indah,menjatuhkan keindahan dalam mata dan lesung pipimu.
Langit hatiku berawal hanya hamparan biru kosong tanpa awan,tanpa angin,tanpa matahari.
Lalu aku sedikit lukiskan satu kali namamu.dan berefek lebih terang dari sinar apapun, bahkan mentari melirik iri.
Gumpalan awan mulai menghias langit hatiku,teduh seperti sorot matamu.
Hadirmu tercatat dalam buku waktu.
Buku waktu tanpa batas untuk selalu menuliskanmu,namamu,melukiskan wajahmu, menggerus emosi hati untuk mengingatmu selalu seumur hidupku.
Obat hati adalah kamu, racikan semesta untukku.
Tanpa kata tanpa bahasa hanya pagutan batin aku,kamu dan alam semesta mendadak hening, bahkan dunia pun biarkan kita nikmati malam kita.
Bulan pun enggan pergi,tugasnya malam ini sinari malam kelam tanpa awan,sempurna.
Kecupan membiuskan,pelukan membisukan,tatapan melumpuhkan. Aku ingin tenggelam dalam dasar hatimu.
Anginpun tertawa, hembusan dinginnya tak aliri kita yang menghangat.
Tanpa jeda, tak urung aku ciumimu.
Madu terlampau pahit untukku sekarang,kau terlampau manis sayang.
Ciumi aku sekali lagi,layaknya semalam.
Langit hati terlampau luas untuk dikuas, lukiskan cerita kita.
Satu kuas untukmu, Tolong lukiskan tentangku,tentangmu,tentang kita.
Langganan:
Postingan (Atom)


